Helaan napas terdengar dari seorang pria dalam sebuah studio musik. Ia sudah cukup lama duduk termenung di ruangan sunyi itu. Menatap sebuah foto yang digenggam dengan tangan lain yang meremat erat. Pikirannya memutar ulang kejadian sepuluh tahun lalu dimana grupnya belum sukses besar seperti sekarang dan kehilangan seorang anggota. Rasa sesal masih ada di lubuk hati terdalamnya, ia bungkam tutupi dari yang lain. Getar ponsel menarik perhatiannya dari bayang masa lalu. Setelah membaca kilas pesan singkat di ponselnya, ia bangkit dan pergi ke luar ruangan tak lupa mengunci kembali ruangan itu. Meninggalkan sisa rasa sesal yang mungkin tak akan pernah hilang.
***
Sepuluh tahun lalu, seorang remaja laki-laki berjalan tergesa-gesa mengejar waktu menuju ruang latihannya. Ia baru setahun lalu melakukan debut bersama sekelompok remaja lain, dan kepopulerannya masih sangat minim bagi grup dari perusahaan besar. Tak lama ia memasuki ruang latihan yang telah berisi delapan remaja laki-laki sedang melakukan pemanasan dengan senda gurau ringan.
“Pagi kak, mau minum dulu atau langsung pemanasan?” tanya salah seorang anggota yang melihatnya datang dan ia meletakkan tas di dekat remaja itu.
“Langsung pemanasan saja, apakah sudah sejak tadi Je?”
“Masih baru mulai kak. Kak Ge santai saja, pelatih datang terlambat hari ini.” balas remaja yang dipanggil Je itu. Ia hanya tersenyum dan mengangguk untuk informasi yang diberi tahu oleh adik anggota yang selisih satu tahunnya.
Geanozavie Kalandra seorang pemimpin grup bernama Our Galaxy beranggotakan sembilan orang dari salah satu perusahaan besar di negaranya. Dia merupakan anggota tertua kedua di grupnya. Killian Wicaksana adalah anggota tertua grupnya, selisih 6 bulan jaraknya dengan Geano, bertanggung jawab tim vokal grup. Namun, Geano menghormati juga menyayangi Killian yang mana selalu menjadi tempatnya bersandar dan berkeluh kesah. Killian juga orang yang selalu berada di sisi Geano tanpa diminta, menyemangati dan rela menjadi sandaran serta tempat berdiskusi meminta saran mengenai adik-adiknya yang lain. Jearino Damian yang dipanggil Jean adik pertamanya yang memegang tanggung jawab koreografi tari grup mereka. Selain itu, Jean adalah seorang kakak yang jahil ke adik-adiknya yang lain dan ia yang paling galak sehingga mudah membuat adik-adiknya yang lain patuh. Zelion Abinaya Sanjaya adik kedua selisih dua tahun dari Geano yang bertanggung jawab mengenai rapp. Lion sering menjadi sandaran dimintai saran dari adik-adik yang lain, jadi diantara para kakak Lion adalah yang paling dekat dengan para adik.
Lalu adik ketiga hingga adik keenam lahir di tahun yang sama dan selisih tiga tahun dari Geano. Mereka adalah Zeyndra Haedar Joshua, Hanandra Rafael, Gabriel Alexander, dan Raimas Madava Naim. Mungkin mereka berempat memang memiliki umur yang sama, namun Hanan dan Gabriel telah lulus dari sekolah menengah menyisakan Zeyn dan Raimas. Hanan telah lulus melalui program homeschooling yang berpaket hingga membuat ia lulus terlebih dahulu dari yang lain ketika berumur 16 tahun. Gabriel lulus dua tahun lebih awal dikarenakan ia mengikuti program akselerasi di sekolah menengah. Sedangkan Zeyn dan Raimas masih bersekolah tahun terakhir serta sekolah mereka berbeda. Zeyn satu sekolah dengan adik terkecil mereka yang bernama Achilles Chenoa Kenzie. Achi yang seharusnya berada satu tingkat di bawah Zeyn, tetapi ia menjadi dua tingkat di bawah Zeyn dikarenakan ia cuti setahun untuk fokus ke jadwal kegiatan grupnya.
Dua jam berlalu, mereka bersembilan telah berlatih untuk persiapan album terbaru mereka. Mereka juga ingin merayakan satu tahun debut Our Galaxy. Geano selaku pemimpin membagi mereka bersembilan untuk mempersiapkan tempat, membeli kue dan cemilan untuk live bersama menyapa penggemar. Geano, Jean, Zeyn, Hanan, dan Gabriel terbagi mendekorasi ruangan yang akan mereka gunakan. Killian dan Raimas mendapat tugas membeli cemilan dan minuman yang akan menemani live mereka. Sedangkan, Lion dan Achi mendapat tugas membeli kue dan setelahnya membantu Killian dan Raimas.
“Kak, minum lah dulu. Masih ada banyak waktu untuk mendekor, kau sejak tadi belum minum sama sekali. Kulitmu sudah pucat, jika kau tidak minum mungkin kau sudah seperti mayat hidup,” ucap Jean yang kembali mengingatkan Geano untuk mengisi cairan ke dalam tubuhnya yang kebetulan kulitnya berwarna putih pucat.
“Aku masih manusia hidup bukan mayat hidup, aku minum sekarang,” ucap Geano diakhiri cekikikan kecil ke arah adik pertamanya yang galak. Jean hanya mendengus dan menatap datar ke Geano.
“Kak Jean tak ada takut-takutnya ke kak Ge, padahal menurutku lebih seram kak Ge daripada kak Jean,” ucap Zeyn yang tentu saja terdengar oleh Jean.
“Zeyn adikku, kau sudah cukup minum air kan?” tanya Jean dengan aura mematikan disekitarnya. Zeyn yang melihat itu mengangguk dengan senyum ketakutan yang sangat jelas ke arah sang kakak.
“El, temanmu satu itu sungguh memiliki banyak nyawa. Entah sudah berapa kali ia mencari masalah dengan malaikat,” gumam Hanan ke Gabriel yang berada di sampingnya.
“Kita berdoa saja, sebanyak apapun Zeyn memancing amarah malaikat. Sang malaikat tidak menyabut nyawanya,” balas Gabriel dengan balon di tangannya yang siap ia tiup.
***
Geano memasuki sebuah cafe yang
tampak cukup sepi pengunjung karena waktu yang akan memasuki tengah malam. Ia
langsung memesan minuman dengan sesekali mengedarkan pandangan mencari sosok
yang mengirim pesan ke dia. Setelah minumannya jadi, ia menghampiri seorang
pria dengan balutan hoodie abu-abu di pojok cafe. Geano duduk tepat dihadapan
pria itu, sorot mata Geano tak membohongi siapapun. Geano merindukannya, tapi
semua telah berlalu.
“Apakah aku mengganggu waktumu? Kau
pasti sangat sibuk sekarang,” ucap pria dihadapan Geano.
“Bukankah kau juga sibuk? Berhenti
menggodaku, kita sama-sama sibuk,” balas Geano dengan senyuman tanpa arti.
“Berhentilah mengingat masa lalu!
Seperti yang kau bilang, kita sekarang sudah sama-sama sibuk.”
“Kau tahu, karena hal itu aku merasa
gagal menjadi seorang pemimpin. Aku kehilanganmu anggota grupku, kehilangan
seorang kakak, bahkan yang paling menyakitiku, aku menghilangkan sosok kakak
dari adik-adikku juga. Lalu paling ku benci, aku tak bisa menahanmu pergi
Killian.”
***
“Kau ingin membeli apa lagi Rai?”
tanya Killian dengan menyelusuri berbagai makanan ringan di rak-rak toko.
“Cukup segini saja kak, bukankah
nanti juga ada kue. Jadi yang lain pasti akan kenyang,” jawab Raimas berusaha
terlihat meyakinkan.
“Uang yang diberikan masih cukup
untuk membeli beberapa lagi, yakin hanya ini saja?” tanya kembali Killian ke Raimas.
Pasalnya Killian tahu, apa yang dikhawatirkan Raimas adalah uang yang diberikan
dan keharusan anggota untuk menjaga berat badan. Lagi pula tidak setiap hari
mereka makan banyak, diet bisa dilakukan dikemudian hari pikir Killian.
“Cukup kak, segitu saja,” ucap Raimas
kembali meyakinkan kakak tertuanya. Killian yang mendengar hal itu pun
mengangguk paham dan mengajak Raimas ke kasir.
Di sisi lain, Achi kebingungan
memilih kue yang akan dimakan bersama untuk perayaan debut grupnya. Ia tahu
jika masalah uang kakaknya Lion tak akan masalah jika harus menggunakan uang
pribadinya karena Lion adalah orang yang sangat royal dan kaya. Achi hanya
takut bila kue yang ia pilih tidak cocok dengan keinginan kakak-kakaknya. Lion
yang melihat kebingungan si bungsu terus menawarkan berbagai macam kue yang
terpajang dan menanyakan stok kue-kue jenis lain. Hal itu membuat Achi semakin segan
karena merasa terlalu lama memilih. Hingga Killian dan Raimas datang dengan
menenteng kantong besar berisi makanan ringan di masing-masing tangan. Akhirnya
Killian kembali mengambil beberapa makanan ringan kesukaan masing-masing
anggota saat mengantri di kasir tadi.
“Masih belum memilih kue?” tanya
Killian ke Lion dan Achi. Lion hanya menggeleng dan Achi terkekeh tanpa suara
dengan menggaruk belakang kepalanya tak gatal. Killian yang paham pun
meletakkan kantong belanjaannya dan tersenyum mengusak rambut si bungsu.
“Kak, kue yang ini apakah sangat
manis?” tanya Killian menunjuk sebuah kue dengan balutan krim putih yang sangat
terlihat simple.
“Tidak terlalu manis kak, dasarnya
juga red velvet kak tapi rendah gula,”
jawab sang pegawai toko.
“Yang ini saja kalau begitu kak,” Lion
segera menuju kasir untuk membayar kue pilihan sang kakak tertua. Killian yang
melihat itu kembali mengambil kantong belanjaannya yang sempat ia letakkan dan
dibawa oleh Achi. Achi merasa tak enak tak membawa apapun, setelah kue dibayar
oleh Lion ia mengambil kue tersebut dan membawanya dengan senyum manis yang cerah
dan ceria.
“Baiklah, aku tak akan membawa
apapun kalau begitu,” ucap Lion dengan berjalan dan tersenyum jahil.
“Bawa ini kak, berat,” ucap Raimas
dengan memberikan kantong belanjaannya ke Lion, lalu menggandeng tangan Achi
mendahului kedua kakaknya. Lion menatap tak percaya ke Raimas ingin protes
namun ia ditinggal pergi begitu saja. Killian terkekeh melihat ekspresi Lion
dan mengajak Lion berjalan di depannya.
***
“Kau tahu, itu bukan salahmu.”
“Hingga kapan kau akan menghindari
mereka?”
“Entahlah, aku senang mereka tak tahu
hal itu.”
“Mereka berhak tahu, berhenti
seakan-akan kau yang jahat.”
“Aku tak ingin mengecewakan mereka
lagi.”
“Kau tahu meskipun selalu
berpura-pura dan terlihat paling baik-baik saja, Raimas adalah yang paling
sakit ketika kau tinggal pergi.”
“Raimas selalu bersikap dewasa sejak
dulu,” gumam Killian dengan senyum tipis.
***
“Killian, kemari sebentar! Aku ingin
berbicara denganmu,” salah seorang staf wanita memanggil Killian yang baru
memasuki gedung perusahaan bersama Lion, Raimas dan Achi.
“Biarku bawa kak, kami akan menunggu
kakak,” ucap Raimas mengambil kantong belanjaan di tangan Killian. Killian
mengangguk dan menghampiri staf tersebut. Lion mengajak Raimas dan Achi untuk
segera memasuki lift.
“Apa-apaan makanan-makananmu tadi?
Itu terlalu banyak untuk sekedar merayakan anniversary
debut yang baru satu tahun. Kalian juga harus menjaga berat badan! Raimas dan
Achi juga kemampuan vokalnya masih sangat kurang, tapi kau malah membeli banyak
makanan ringan dan kue yang manis. Selain diet mereka yang gagal, tenggorokan
mereka akan terganggu oleh makanan-makanan yang kalian makan hari ini.
Bagaimana dengan penampilan kalian nanti? Bahkan kalian tidak setenar itu saat
ini,” omel staf ke Killian yang hanya mendengarkannya tanpa menyela sedikit
pun.
“Maaf bila terlalu banyak membeli
makanan ringan, nanti semua itu tidak akan langsung kami habiskan. Kebetulan
juga makanan ringan di asrama habis, jadi sisanya akan kami simpan untuk
cemilan di asrama. Untuk Raimas dan Achi kemampuan musik mereka akan berkembang
dengan sangat baik nanti. Aku yakin mereka berdua akan menjadi penyanyi yang
baik, kau tidak perlu khawatir. Untuk kepopuleran, lebih baik kau dan
perusahaan tutup mulut tentang hal itu. Kalian bahkan membiarkan kami membuat
video musik di jalan hanya dengan memberikan kamera ke kami. Nama grup kami
akan popular saat tiba waktunya, jadi berhenti menekan anggota grup terutama Geano
dengan paksaan menyuruh kami segera popular. Hal itu tentu tak bisa kami handle. Kalian begitu tidak sabar agar
kami segera naik dan memberikan banyak uang, tapi kalian bahkan menyuruh Geano
mencari anggota grupnya sendiri, membuat lagu sendiri, melatih anggotanya
sendiri. Kalian sangat kejam kepada Geano,” ucap Killian dengan menahan rasa
kesalnya. Staf yang mendengar ucapan Killian hanya diam tanpa tahu ingin
membalas apa lagi karena semua itu fakta.
“Aku permisi, kami akan melakukan live yang bisa menjadi salah satu jalan
kami memberi kalian uang,” ucap Killian setelah sekitar lima menit sang staf
terdiam. Tanpa menunggu respon sang staf pun Killian langsung pergi
meninggalkannya.
***
Di trotoar yang basah usai guyuran
hujan, tiga orang laki-laki menatap terkejut ke arah cafe ujung jalan. Salah
satunya meremat erat jemarinya bergetar menahan kesal dengan genangan air yang
siap turun kapanpun. Satu yang lain hanya menatap datar tanpa menunjukkan
ekspresi apapun, ia hanya menghela napas panjang merasa sedikit lega entah
kenapa. Satu sisanya hanya menepuk dan mengelus punggung sang adik yang
bergetar mencoba meredakan amarah.
“Ke supermarket makan mie mau?”
tanya si tertua setelah memperhatikan kedua adiknya. Keduanya hanya mengangguk
tanpa berkata apapun. Sang tertua paham, dan saatnya memberi tahukan mereka
perihal itu. Ia tidak akan bilang ke sang kakak untuk hal ini.
***
“Apakah semua sudah berada di sini?”
tanya Geano dengan mengedarkan pandangan mengabsen anggotanya.
“Sudah harusnya, aku tadi dipanggil
staf,” ucap Killian yang baru memasuki ruangan.
“Kak, Rai keluar lagi tadi mau ke
loker ambil sesuatu katanya,” teriak Hanan yang tadi sempat berbicara dengan
Raimas sebelum Raimas keluar lagi.
“Oke, kita ambil posisi dulu dengan
nunggu Rai ya,” ucap Geano yang diangguki oleh yang lain.
“Maaf kak, nunggu aku ya?” ucap
Raimas dengan napas memburu setelah berlari dua lantai.
“Kita baru mulai, Rai ambil posisi
ya. Kita mulai live-nya sekarang,” balas
Geano, Raimas pun duduk tepat disebelah Killian. Killian yang tahu Raimas duduk
di sebelahnya pun langsung merangkul adiknya. Raimas menatap Killian dalam,
berharap yang ia temukan tidaklah benar terjadi. Di sisi lain, dua orang
laki-laki menatap tajam yang satu dengan rasa tak suka dan satu lagi dengan
tatapan tajam yang tak dapat diartikan.
Live
perayaan anniversary debut mereka
telah usai setengah jam yang lalu. Raimas sekarang sedang berada di balkon
asrama mereka. Setelah melakukan live
mereka memang kembali ke asrama untuk beristirahat juga mempersiapkan diri guna
tampil di atas panggung besok. Ia bimbang dengan sesuatu yang tertulis di sebuah
kertas. Ia menemukan surat yang tulisan tangannya sama persis dengan miliknya,
namun ia tak pernah ingat menulis surat itu. Ia bingung benar-benar tak
mengerti maksud dari surat itu. Di lembar pertama tertulis namanya dan tertulis
juga jika ia harus mencegah sesuatu yang membuat ia kehilangan kakaknya. Ia
bingung kakak yang dimaksud siapa awalnya, tapi firasatnya berkata bahwa yang
dimaksud adalah Killian. Karena surat itu berkata ada kakaknya yang dimarahi
oleh staf dan merendahkan grup mereka yang tak memiliki popularitas seperti
senior yang lain. Ia pun rela berlari memastikan hal itu, dan benar ia
mendengar sendiri bagaimana Killian dicercah oleh staf seperti itu. Raimas tak
mau jika Killian lah yang harus pergi.
“Rai, kau sedang apa?” tanya Gabriel
yang sejak tadi memperhatikan Raimas dari dapur. Raimas terkejut dengan suara
Gabriel, karena terlalu terkejut ia hanya menatap Gabriel dengan berpikir “haruskah aku bilang?”.
“Rai, kau tak apa?” tanya Gabriel
lagi merasa tak dihiraukan.
“El, kau percaya dunia multi universe?”
***
“Hanan, apakah kau mendapat surat?”
tanya Zeyn ke Hanan yang sedang rebahan di sofa ruang bersama.
“Surat?” Hanan bingung juga apa yang
dimaksud mantan musuhnya itu. Zeyn pun menyerahkan beberapa lembar kertas dengan
tulisan tangannya.
“Bukankah ini tulisan tanganmu?”
Hanan bertanya kembali dengan membaca beberapa lembar surat dan mengernyit di
beberapa waktu.
“Kau dapat juga? Rai juga dapat,” sahut
Gabriel dari dapur bersama Raimas.
“Juga?” Hanan saling memandang
teman-temannya.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”
tanya Lion baru memasuki ruang bersama.
“Zeyn dan Raimas dapat surat dengan
tulisan tangan mereka sendiri kak, bukankah itu lucu?” ucap Hanan dengan
tertawa sedikit meledek. Hal ini bertepatan dengan Jean yang baru keluar dari
kamar.
“Itu pasti kalian tulis sendiri
untuk diri kalian,” celetuk Lion menggoda kedua adiknya. Namun, tidak ada yang
tertawa. Padahal biasanya jika begitu mereka akan tertawa bersama.
“Lion, kak Geano dan kak Killian
kemana?” tanya Jean memecah keheningan dan sedikit mengejutkan Lion.
“Mereka kembali ke perusahaan, CEO
memanggil mereka,” jawab Lion apa adanya.
“Bangunkan Achi, ada yang perlu kita
bicarakan,” ucap Jean, Gabriel langsung pergi ke kamar si bungsu membangunkan
ia dari tidur singkatnya.
“Ada masalah apa kak?” tanya Lion
yang menangkap perasaan gusar kakaknya.
***
Satu bulan setelah anniversary Our Galaxy, di dalam ruangan
studio ada tiga remaja laki-laki berdiam menunggu sang pemimpin memberi arahan.
Geano sang pemimpin dengan tersenyum memberikan beberapa lembaran kertas berisi
lirik dan judul lagu yang akan mereka bawakan untuk comeback selanjutnya.
“Bagaimana? Bukankah ini list yang
menarik?” tanya Geano sang pemimpin dengan senyum semangatnya terlihat dari
cekungan cacat di pipi yang nampak dalam.
“Kak, kau yakin laguku yang ini
masuk?” tanya Hanan ke Geano dengan suara sedikit bergetar karena terkejut dan
takut akan hal lain.
“Yang mana? Oh, 20? Bukankah itu
bagus? Menurutku lagu itu cocok dengan tema lagu yang lain. Apalagi itu tentang
rasa frustasi kita remaja yang memasuki fase dewasa,” jawab Geano meyakinkan
Hanan.
“Iya benar, itu lagu yang bagus.
Kapan kita akan mulai melakukan rekaman?” sahut Lion dengan mengelus lutut
Hanan menenangkan sang adik.
“Mungkin minggu depan, kita akan
merilisnya di bulan Juni. Jadi lebih cepat lebih baik.” jawab Geano yang
diangguki oleh kedua adiknya.
“Baiklah, cukup untuk rapat kita
hari ini. Beritahu yang lain juga minggu depan kita akan sibuk.” ucap Geano menutup
rapat mereka bertiga. Geano membereskan meja dan komputernya. Sedangkan, Lion
dan Hanan pamit keluar terlebih dahulu.
“Kak, yang tertulis di suratku benar
terjadi. Kau tahu entah sudah berapa banyak hal yang benar kejadian, lalu
sekarang laguku yang berjudul 20 benar-benar akan dirilis di bulan Juni juga?
Aku ingin tak percaya tapi ini sungguhan kak, apa benar setelah ini kita akan
kehilangan kak Killian?” ucap Hanan frustasi ke Lion setelah memasuki asrama.
Hanan menahan semua itu selama perjalanan dari perusahaan hingga sampai di
asrama.
“Tenanglah, nanti malam kita
diskusikan hal ini dengan kak Jean.” ucap Lion mencoba menenangkan Hanan. Lion
memasuki kamarnya dan membaca ulang surat yang ia terima. Benar, tertulis di
surat bahwa mereka akan melakukan comeback
di bulan Juni.
Satu bulan lalu tepatnya di hari anniversary Our Galaxy, bukan hanya Zeyn
dan Raimas saja yang mendapat surat. Satu jam sebelum latihan grup mereka
dimulai, Jean pergi ke loker untuk mengambil pakaian gantinya. Namun, tiba-tiba
listrik padam dalam beberapa detik dan ia menemukan surat di dalam lokernya.
Suratnya hanya ada tujuh lembar dengan lembar pertama bertuliskan “untuk diriku sepuluh tahun lalu Jearino
Damian, kau harus mencegah Killian pergi sendirian bulan Oktober nanti. Hal itu
agar kau tak kehilangannya. Jika kau melanggarnya, aku akan mendatangimu dan
membunuhmu meskipun harus melintasi universe. Kau harus percaya! Aku yakin kau
akan melakukan latihan di hari anniversary satu tahun debut dan nanti Geano
akan telat. Oh, pelatih juga telat. Jika benar kau harus percaya, atau aku akan
membunuhmu!” Jean awalnya mengira itu surat dari pembenci dan berniat
membuangnya. Namun, diurungkan karena tulisan tangan yang sangat mirip dengan
miliknya. Lalu setelah benar kejadian sama persis dengan surat yang ia baca,
Jean memutuskan selalu mengamati Killian. Hingga saat Jean mendengar bahwa Zeyn
dan Raimas mendapat surat yang sama. Setelah malam itu mereka berkumpul, esok
harinya Hanan dan Lion mendapat surat yang sama di loker mereka dengan tulisan
tangan mereka sendiri. Disusul Gabriel dan Achi yang mendapat surat di siang
harinya. Surat yang mereka dapat memiliki inti yang sama, bahwa mereka bertujuh
harus mencegah kejadian di bulan Oktober yaitu kehilangan kakak tertua mereka
Killian Wicaksana.
***
“Apa? Kak Gen masih bertemu dengan
kak Lian?” teriak Gabriel begitu mendengar cerita Jean, Zeyn dan Raimas yang
melihat kedua orang itu sedang mengobrol di cafe.
“Kenapa mereka masih bertemu?
Bukankah saat itu bahkan perusahaan dan kak Geano sangat kekeuh menghilangkan
kak Lian dari thumbnail musik video
dan lagu-lagu kita?” gumam Hanan kecil yang masih didengar seluruh orang di
ruang bersama asrama.
“Sebenarnya ada yang harus kalian
ketahui bahwa kak Lian saat itu dijebak.” ucapan Jean menggema di seluruh
ruangan. Semua adiknya diam mendengarkan Jean melanjutkan cerita yang tak
mereka ketahui.
“Jadi, mereka menjebak kak Lian agar
pergi meninggalkan kita?” gumam Hanan dengan nada tak percaya setelah mendengar
cerita Jean.
“Kenapa kau hanya diam saat tahu
semua kejadian itu kak?” tanya Lion dengan nada tinggi ke Jean.
“Semua sudah terjadi, bahkan kak
Lian juga memblokir semua nomorku. Lalu kak Geano juga menyuruhku untuk
membiarkan dia pergi, jadi aku harus melawan mereka sendiri begitu? Kau tau
saat itu posisi grup kita sangat tidak baik-baik saja,” balas Jean yang
emosinya tersulut oleh nada tinggi sang adik.
“Sekarang pun kita tak bisa membuat
kak Lian kembali,” ucap Zeyn dengan nada rendah frustasi. Ruangan bersama
asrama yang biasanya digunakan untuk bersantai itu terasa sangat sesak dengan
rasa frustasi, sedih dan kesal menjadi satu. Zeyn yang emosinya sedang memuncak
berdiri mengambil sebuah foto bersama Our Galaxy berdelapan di samping televisi
bersiap membanting foto itu. Namun, dengan sangat cepat Achi mencegah tangan
Zeyn yang siap menghancurkan foto itu.
“Achi, lepaskan tanganmu sekarang!” ucap
Zeyn penuh penekanan dan amarah ke adik bungsunya.
“Tidak, ini adalah foto bersama kita
saat ini. Kau sudah menghancurkan semua foto kita bersama kak Lian, lalu
sekarang karena kita sudah berdelapan dan kau merasa marah lagi. Kau ingin
menghancurkan foto kita berdelapan? Kau ingin kita berberapa agar kau tak marah
dan menghancurkan bingkai foto?” ucap Achi dengan nada marah ke Zeyn. Anggota
yang lain hanya diam menyimak. Pasalnya ini pertama kalinya adik bungsu mereka marah
seperti itu. Zeyn yang amarahnya menurun pun menurunkan dan meletakkan bingkai
foto itu lagi di sebelah televisi dengan pelan.
“Kita tidak bisa mengembalikan kak
Lian ke sisi kita lagi. Kita tidak bisa mengubah masa lalu yang telah terjadi,”
ucap Achi yang membuat seluruh kakaknya tertunduk.
“Andai saja ada universe lain. Ah,
kalau pun ada, aku berharap kak Lian masih bersama kita di universe itu.” gumam
Raimas yang sejak tadi menutup mulut. Ia terlalu sedih mengetahui bahwa
kakaknya Killian berpura-pura jahat padanya saat itu.
“Apakah kalian ingin menulis surat
untuk diri kita sepuluh tahun lalu?” ucap Achi tiba-tiba yang langsung menjadi
pusat perhatian kakak-kakaknya. Achi yang menjadi pusat perhatian kakaknya pun
tersenyum dengan mengangkat beberapa lembar kertas di tangannya. “Setidaknya
amarah kita bisa keluar semua, karena besok kita akan melakukan live untuk merayakan anniversary ke 11 tahun debut. Bukankah
kita harus terlihat baik-baik saja saat bertemu dengan penggemar kita?” jelas
Achi mengingatkan kakak-kakaknya tentang jadwal mereka keesokan harinya.
“Benar juga, besok penggemar kita
akan khawatir jika kita seperti ini.” ucap Lion yang akhirnya semua anggota
mengambil kertas dan pena mulai menulis surat mengeluarkan emosi mereka.
Ruangan bersama itu yang begitu tegang berubah sunyi dengan suara gemerisik
kertas dan coretan pena, tak lupa beberapa hembusan napas mereka pun terdengar.
Achi yang melihat kakak-kakaknya
bersemangat menulis surat untuk diri mereka sepuluh tahun lalu pun tersenyum.
Dia dengan senyum lebar menyesap es kopinya dan berkata dalam hati “Kak Lian, kau akan bersama dengan kami
lagi”.
***
Lima bulan setelah anniversary satu tahun debut dan dua
bulan setelah comeback keempat Our
Galaxy. Sekarang Our Galaxy sedang berada di negara orang, melakukan shooting untuk musik video single pertama mereka. Tentu semakin
dekat dengan kejadian yang akan membuat mereka kehilangan sang sulung.
Achilles duduk sendiri dan menikmati
pemandangan disekitarnya. Sangat indah dan memanjakan matanya juga mendukung
berlangsungnya shooting mereka karena
langit yang cerah. Geano datang dari belakang berniat mengejutkan sang bungsu
tapi gagal. Achilles yang tahu bila Geano gagal mengejutkannya pun tertawa
mengejek.
“Apa yang kau dengarkan dengan
melihat pemandangan ini?” tanya Geano ke Achi yang melihat Achi sedang
menggunakan earphone.
“Aku sedang mendengarkan mixtape
lagu dari mini album kedua kita. Aku berharap kita selalu bersembilan, seperti
di lagu kita yang selalu mengulang angka sembilan,” ucap Achi dengan senyum
termanisnya ke arah Geano.
“Kita akan selalu bersembilan,” balas
Geano dengan senyum tak kalah manis lalu merangkul bahu adiknya tanpa tahu ada
kejadian besar menanti.
“Apa ini? Kalian berdua asik bermain
bersama meninggalkan kami?” ucap Killian dari arah belakang berjalan mendekat
dan dibelakangnya ada anggota yang lain juga.
“Pemandangan kota ini sangat indah,”
ucap Zeyn yang duduk di atas tembok pembatas. Melihat Zeyn yang duduk di atas
tembok pembatas, Gabriel ikut duduk tepat disebelahnya. Setelah Gabriel, Hanan
dan Jean duduk di sebelah kiri Gabriel. Lalu Achi duduk di sebelah kanan Zeyn
disusul Lion dan Raimas. Killian dan Geano memilih duduk di sebelah kiri Jean.
Achi yang melihat kakak-kakaknya
duduk di sebelahnya dengan senyum cerah menikmati pemandangan kota negara orang
dihadapan mereka. Achi melepas tautan earphone
dari ponsel miliknya. Ia mengeraskan volume ponselnya dan memutar ulang lagu
mixtape dari mini album kedua mereka. Achi tahu beberapa kakaknya menatapnya heran
karena melakukan itu. Namun, kali ini Achi akan buta dan egois membiarkan lagu
itu menggema di antara mereka. Bahkan jika mau, Achi ingin seluruh dunia tahu
bahwa ada lagu indah ciptaan mereka bersembilan yang akan selalu bersembilan.
***
“Dimana Achi?” tanya Geano
mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Beberapa menit lagi Our Galaxy akan
melakukan live untuk merayakan 11
tahun debut mereka. Namun, sang bungsu tiba-tiba menghilang. Bahkan tadi saat
berangkat dari asrama ke gedung perusahaan sang bungsu telah pergi terlebih
dahulu.
“Sudah semua ya? Maaf tadi Achi
dipanggil staf,” ucap Achi memasuki ruangan. Hampir seluruh ruangan terdiam,
para anggota juga para staf lama merasa de
javu dengan kata-kata itu.
“Achi sudah berada di sini, kita
bisa mulai live-nya,” ucap Geano
memecah keheningan juga lamunan beberapa anggota. Achi yang melihat ekspresi
semua orang, baik anggota atau staf tersenyum tipis.
***
9 Oktober tahun 20XX, waktu
perilisan musik video yang dua bulan lalu mereka rekam di negara orang dan awal
mula kejadian itu. Jean berlari di lorong gedung perusahaan. Ia terus berlari
ke sana ke mari dengan mengedarkan pandangan mencari sosok seseorang. Tak
memperdulikan para staf yang menanyainya mengapa dan apa yang sedang ia cari.
Di otaknya hanya ia harus menemukan kakaknya Killian. “Kak Killian, kumohon muncullah sekarang juga” batin Jean dengan
terus berlari.
Zelion berdiri gusar di depan
ruangan bos CEO perusahaannya. Ia sudah sejak dua jam yang lalu berdiri
menunggu sang pemimpin di depan ruangan CEO nya. Geano sedang melakukan rapat
dengan CEO dan manager. Zelion mendapat tugas mengamati pergerakan CEO dan
managernya. Ia telah menghabiskan lima bungkus permen tanpa sadar karena sangat
fokus menatap ruangan CEO perusahaannya. Tanpa henti juga ia mengamati
ponselnya, berharap sang kakak ketiganya menemukan kakak tertua. “Kumohon, kak Killian cepat ketemu”
batin Lion dengan tangan yang meremat ponselnya erat.
Raimas dan Zeyn tak berhenti
mengamati kendaraan dan orang asing yang keluar masuk ke parkir basement gedung perusahaan mereka. Mereka
berdua mengamati setiap orang yang ada di basement.
Bahkan mereka mencatat hampir semua plat nomor kendaraan yang ada di basement. Sesekali mereka juga
memastikan apakah mereka melihat sosok familiar yang sekarang akan mereka
pertahankan. “Semoga rencana kami
berhasil mempertahankanmu kak Lian” batin keduanya.
Hanan dan Gabriel telah duduk selama
dua jam memperhatikan orang-orang yang ada di kafetaria perusahaan mereka.
Hanan sekarang sedang menyesap gelas kopi yang ke tujuh. Ia mungkin malam ini
tidak akan bisa tidur karena semua kafein yang ia konsumsi. Tak lupa piring cheesecake yang sudah bertumpuk lima
tingkat. Gabriel yang baru menghabiskan segelas minuman miliknya pun hanya bisa
menggeleng melihat kembarannya yang beda sehari dan orang tua itu. “Kuharap nyawa Hanan selamat dari amukan kak
Lian, kak Jean dan kak Geano” batin Gabriel menatap Hanan yang fokus mengedarkan
pandangan dengan mulut yang terus menyesap gelas kopi kafetaria.
Geano keluar dari ruangan bos
perusahaannya dan terkejut dengan keberadaan Lion serta tatapan tajam Lion yang
mengarah ke ruangan CEO perusahaannya. Lion yang sadar Geano telah keluar dari
ruangan CEO yang sedang ia amati itu pun tersenyum kikuk.
“Kak, kau sudah selesai rapat?”
tanya Lion tak sadar karena terlalu gugup ketahuan sedang mengamati ruangan bos
nya.
“Iya, kau sedang apa?” tanya Geano
yang penasaran dengan yang dilakukan Lion. Lion yang ditanya seperti itu tentu
bingung dan tanpa sadar mengedarkan pandangannya ke sekitar.
“Ge, kau masih di sini? Eh Lion,
sedang apa disini?” tanya bos nya yang baru keluar dari ruangan bersama manager
dan beberapa staf yang lain.
Lion yang melihat bos nya muncul
langsung merubah ekspresinya dengan datar dan berdiri, lalu berucap “tak ada,
hanya mencari inspirasi untuk membuat lagu”. Lion berucap sedatar mungkin dan
berlalu begitu saja, meninggalkan orang-orang yang di sana dengan menatap ke
arahnya heran dan tak paham kenapa ia bertingkah seperti itu.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya
sang CEO ke para staf dan Geano. Geano hanya menggeleng dengan senyum dan pamit
pergi. Hal itu diikut oleh sang manager dan para staf yang lain. “Aku melakukan
kesalahan apa lagi hingga kalian seperti itu?” ucap sang CEO yang ditinggalkan
para bawahannya.
Satu jam sebelum perilisan single Our Galaxy, ketujuh anggota telah
berkumpul di asrama mereka. Di ruang bersama ada Zeyn, Lion, Raimas dan Gabriel
duduk di sofa menatap kosong televisi yang menyala. Di dapur ada Geano yang
sedang memakan makan siangnya setelah diomeli Jean karena ia menunda makan
siangnya usai rapat dengan bos nya dan ada Jean yang sedang memasak cemilan
untuk anggota yang lain. Sedangkan, Hanan sekarang terkapar di kamarnya setelah
menghabiskan sembilan gelas kopi dan satu utuh cheesecake di kafetaria. Ia juga telah diomeli oleh Jean juga
karena tak sadar minum kopi sebanyak itu. Geano membiarkan Jean mengomeli sang
adik yang bebal terhadap kesukaannya yaitu kopi, bagi Geano Jean cukup membuat
Hanan kapok. Ia yakin seminggu kedepan Hanan tidak akan berani meminum minuman
mengandung kafein itu.
Jika ketujuh anggota Our Galaxy
sedang di asrama, maka Killian saat ini sedang berada di stasiun kereta bawah
tanah menuju kota pusat negara. Killian baru saja dari rumah mengunjungi kakak
laki-lakinya yang sedang pulang dari sekolah militer setelah dua tahun tidak
pulang. Ia hanya bilang pada sang pemimpin Geano dan manager jika ia pulang
sebentar tanpa memberi tahu anggota yang lain. Tentu, ia tak tahu bila anggota
lain sedang mencari dan mengkhawatirkan dia. Ia memasuki kereta bawah tanah dan
duduk di kursi yang kosong, perjalanannya membutuhkan waktu sekitar satu jam
hingga sampai di tujuannya. Tanpa memperhatikan sekitar, ia memasang earphone di kedua telinganya
mendengarkan single grupnya yang baru
saja rilis. Killian juga mendengarkan rekaman lagu-lagu lain yang berada di mini
album untuk comeback mereka di bulan
November nanti. Killian sungguh tak sabar untuk hal itu. Di kursi sisi lain ada
seorang remaja laki-laki diam memperhatikan Killian dengan seragam sekolahnya, remaja
itu rela membolos sekolah hanya untuk mengikuti Killian hingga ke rumahnya.
***
Killian memasuki asrama dengan
pakaian lembab usai terguyur hujan yang membasahi bumi sejak ia sampai di
stasiun pusat kota. Para anggota yang sedang di ruang bersama langsung bangkit
mendatangi Killian serempak tak lupa Hanan yang sedang terkapar di kamar pun
langsung keluar kamar. Killian yang bingung hanya menatap para anggota satu per
satu dengan raut ekspresi kebingungan.
“Mereka mengkhawatirkanmu karena kau
tiba-tiba menghilang pagi tadi.” Ucap Geano membaca ekspresi kebingungan teman
seumurannya. Killian terkekeh ringan mendengar pernyataan Geano.
“Aku hanya pulang menemui kakakku
yang pulang dari sekolah militernya. Aku tidak akan kemana-mana, kalian tidak
perlu khawatir.” ucap Killian berusaha menenangkan hati adik-adiknya. Zeyn,
Raimas, Gabriel dan Hanan yang mendengar itu tanpa berkata apapun dan tanpa
memperdulikan pakaian Killian yang lembab langsung memeluk sang kakak tertua.
Sedangkan, Jean dan Lion kembali duduk di sebelah Geano yang menonton televisi.
“Kalian berdua tidak ikut memeluk
Killian?” tanya Geano ke kedua adiknya. Namun, keduanya sama-sama diam seakan
tidak mendengarkan ucapan Geano.
“Baiklah biar aku yang memeluk
kalian,” ucap Geano siap memeluk Jean dan Lion tapi keduanya serempak mendorong
Geano menolak pelukannya.
“Kalian berempat kenapa? Tumben
manja sekali kepadaku. Achi belum pulang?” tanya Killian setelah memperhatikan
seluruh asrama tidak menemukan si bungsu. Geano yang sadar tidak melihat sang
bungsu sejak tadi pun ikut mengedarkan pandangannya.
***
Killian saat ini sedang duduk di
teras tempat tinggalnya. Setelah mengunggah foto mengucapkan anniversary tujuh tahun nama fandomnya,
ia duduk menikmati semilir angin pusat kota. Di hadapannya ada ponsel yang
sedang menampilkan siaran langsung grup yang dulu pernah ia berada. Melihat
adik-adiknya sedang tertawa bersama merayakan hari debut ke sebelas tahun
mereka. Terkadang ia juga berharap masih bersama mereka. Namun, takdir berkata
lain dan ia hanya menerima takdir itu. Meskipun harus memulai dari awal, ia tak
masalah asalkan adik-adiknya baik-baik saja. Dia juga tidak akan diam jika
atasan perusahaannya semena-mena. Jika bisa mengulang waktu, ia hanya berharap
sedang tidak berada di posisi itu.
***
Sepuluh hari sejak kejadian Killian
pulang ke rumah tanpa memberi tahu anggota lain, dan sudah sepuluh hari juga
Killian melihat adik bungsunya pulang larut malam. Saat itu Killian melihat
Achi pulang dengan pakaian yang basah kuyup tapi akan mengering. Killian
mencoba bertanya ke Achi, tapi Achi tak menjawab dan bersikap seakan Killian
tidak ada. Killian hanya menganggap mungkin Achi sedang mengalami hari yang
buruk, jadi ia memilih tidak mengganggu adiknya dan membiarkan adiknya
menyelesaikan masalahnya sendiri.
Di hari kesebelas, anggota Our
Galaxy akan berlatih koreo untuk penampilan mereka di panggung comeback. Geano, Killian, Jean, Lion,
Hanan dan Gabriel berada di ruang latihan. Ada yang melatih vokal, mencoba
ulang koreo tarian, membaca lirik lagu atau bahkan hanya sekedar berkaca pun
ada. Beberapa menit kemudian Raimas, Zeyn dan Achi memasuki ruangan masih
dengan seragam sekolah mereka. Bukannya mengganti pakaian, mereka bertiga lebih
memilih merebahkan tubuh ke lantai yang dingin karena AC.
“Kalian mau minuman?” tanya Killian
ke mereka bertiga yang langsung diangguki ketiganya.
“Kak Lian, aku mau es americano juga,”
ucap Hanan takut bila Jean akan melarangnya.
“Yang lain mau apa? Biar aku dan kak
Lian yang beli,” bukannya melarang, Jean justru menanyakan yang lain dan
menawarkan diri untuk membeli minuman untuk yang lain.
“Biar aku saja ikut kak Lian beli
minuman, aku bingung mau beli apa,” ucap Achi yang bangun dari rebahannya.
Killian tak menolak, ia hanya diam menunggu adiknya mencatat pesanan yang lain.
Killian dan Achi setelah mencatat pesanan semua anggotanya pun pergi ke
kafetaria perusahaan membeli semua pesanan anggota.
Setelah 30 menit menunggu pesanan Killian dan Achi telah jadi. Mereka berdua berjalan menuju lift untuk ke lantai ruang latihan mereka berada. Namun, seorang staf wanita mendatangi mereka dengan panik dan meminta tolong.
“Killian, Achi, tolong ke basement sekarang! Bantu aku, disana ada pertengkaran. Aku tak bisa melerainya,” ucap staf wanita itu memohon ke kedua anggota Our Galaxy itu. Karena keadaan di sana sepi dan hanya ada mereka berdua, akhirnya Killian dan Achi pergi ke basement tanpa pikir panjang.
Killian dan Achi sangat terkejut begitu sampai di basement tempat parkir gedung perusahaan mereka. Di sana tergeletak dua orang yang tak begitu mereka kenal dengan darah di sekitarnya. Killian sigap mencari keberadaan staf wanita tadi ternyata menghilang begitu saja. Achi hanya diam mematung menatap dua orang bersimbah darah, air mukanya tampak memucat. Killian yang menyadari adiknya memucat ketakutan langsung memeluk sang adik membiarkan minuman-minuman pesanan anggota lain tumpah.
“Achi sadarlah, ini bukan salahmu. Tutup matamu dan lupakan hal ini. Achi, kakak ada disini. Ini bukan salah Achi, Achi sadar ya. Tenang,” gumam Killian dengan memeluk dan mengusap tubuh Achi berusaha menyadarkan dan menenangkan sang adik.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya bos mereka yang baru datang terkejut melihat keadaan dua orang yang tergeletak bersimbah darah ditambah dua anggota grup naungannya sedang saling berpelukan. Belum mendapat jawaban, tiba-tiba seluruh anggota Our Galaxy datang dengan napas terengah ke basement dan tak kalah terkejut dengan pemandangan yang ada. Sang bos yang paham situasi langsung menyuruh bawahannya untuk sebagian memanggil ambulan untuk dua orang yang tergeletak tak tahu masih bernyawa atau tidak, dan sisanya membawa anggota Our Galaxy naik ke ruang latihan.
***
Sudah lebih dari tiga jam ruang latihan itu hening, semua anggota Our Galaxy sibuk dengan pikiran masing-masing. Geano melihat seluruh anggotanya, mereka semua seakan tenggelam dengan pikiran masing-masing. Begitupun dia ketika menatap Killian yang masih memeluk tubuh Achi. Geano bingung dan tak paham apa yang telah terjadi. Tadi ia hanya berlari mengikuti anggota-anggotanya yang tiba-tiba berlari keluar melewati tangga menuju kafetaria dipimpin oleh Jean. Ketika baru sampai kafetaria mereka seakan tidak menemukan apa yang mereka cari, Jean diikuti anggota yang lain berlari menuju basement. Namun, begitu sampai basement justru pemandangan dua orang tak dikenal tergeletak bersimbah darah dengan dua anggotanya saling berpelukkan. Geano yang gusar pun berdiri dari duduknya menuju pintu. Hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan menatap sang pemimpin, mereka penasaran apa yang akan dilakukan sang pemimpin.
“Kak, biarkan aku bertemu CEO,” ucap Geano ke manager yang menghalanginya untuk keluar ruangan.
“Diamlah disini Ge, tunggu hingga bos menyelesaikannya. Dua orang tadi juga sedang kritis di ICU rumah sakit kota. Kita tidak bisa gegabah, atau ini akan berimbas pada perusahaan.” Ucap manager membujuk Geano untuk tetap tinggal.
“Aku tak bisa diam saja. Kita harus mencari bukti atau melihat rekaman cctv. Bagaimana aku hanya bisa diam saja? Kenyataannya kedua anggotaku ada di lokasi kejadian yang bisa saja terseret,” ucap Geano penuh penekanan dan menggema di seluruh ruangan. Semua orang di ruangan itu menahan napas mereka tanpa sadar ketika sang pemimpin berbicara seperti itu.
“Bersabarlah, diam disini atau kalian akan dikurung di asrama? Yang pasti kalian tidak akan keluar hingga keadaan kedua orang itu membaik,” tekan sang manager berusaha membuat Geano untuk mundur. Killian yang melihat suasana ruangan buruk karena pertengkaran sang pemimpin dan manager pun berdiri meraih tangan Geano juga menariknya pelan mengajak duduk. Geano yang merasakan tangannya dipegang oleh seseorang berusaha melepaskan diri. Namun, ketika tatapan matanya bertemu dengan mata Killian, Geano seakan tahu bahwa ia harus mundur dan menurut untuk sekarang. Geano melihat adik-adiknya yang menatap dirinya takut, adiknya ketakutan. Jean yang menangkap ekspresi Geano tiba-tiba berteriak keras, mengagetkan semua orang.
“Lebih baik kita tidur, kita tidak akan keluar dari sini hingga entah kapan kan? Kita selama ini juga sibuk, mumpung sedang diberi waktu mari kita tidur siang,” ucap Jean kencang dengan senyum terpatri di bibirnya.
“Ini sudah terlalu sore untuk tidur siang kak, ini mah tidur sore,” balas Lion tak kalah kencang, tapi juga merebahkan diri ke lantai melambaikan tangan ke Gabriel mengajaknya merebahkan diri di sebelahnya. Gabriel yang melihat itu menurut merebahkan diri di sebelah kakaknya dengan menggunakan lengan sang kakak sebagai bantalan.
“Ya sudah berarti kita akan tidur lebih awal yaitu sore ini.” balas Jean tak mau kalah dengan memukul pantat Lion, dan merebahkan diri menarik Hanan dan Zeyn didekatnya. Hanan dan Zeyn menurut merebahkan diri tanpa penolakan.
“Achi,” ucap Killian ke si bungsu yang masih diam melamun. Achi yang tatapan matanya bertemu dengan Killian yang duduk di lantai di sebelah Zeyn yang rebahan dengan leher dipeluk oleh Jean, tidak kuat lagi menahan tangis. Achi mendekati Killian dan memeluk Killian erat dengan air mata mengalir deras. Killian dengan sigap memeluk tubuh si bungsu dan merebahkan tubuh mereka berdua.
Geano yang melihat anggota-anggotanya telah merebahkan diri dan menutup mata pun menghampiri Raimas yang masih duduk di pojok ruangan. Ia menarik tubuh Raimas ke dalam pelukannya dan mengajak Raimas merebahkan diri berjejer dengan anggota yang lain. Suara isakan tangis sang bungsu memenuhi ruangan itu. Dalam diam, mereka bersembilan merebahkan diri di atas lantai ruang latihan yang dingin memejamkan mata berdoa agar hal buruk tak menimpa mereka. Saling berpelukan saling menghangatkan dengan mata terpejam dan diiringi suara lirih isak tangis si bungsu. Tak sadar pun semuanya meneteskan air mata dengan perasaan yang bercampur antara takut, khawatir, dan gugup.
***
“Achi, kenapa? Apakah tak suka
makanannya?” tanya Geano yang memecahkan lamunan Achi. Achi yang sadar dari
lamunan hanya tersenyum dan menggeleng kecil, lalu memakan makanan yang ada di
hadapannya. Ia lupa bila para anggota akan memakan makanan mereka setelah si
bungsu memakan suapan pertama.
“Ini daging kesukaanmu, Achi makan
yang banyak. Achi pasti kelelahan akhir-akhir ini.” ucap Jean memberikan
sepotong daging ke Achi dengan senyum manis. Achi hanya menerima dan
menyuapkannya ke dalam mulutnya.
“Kenapa Achi kelelahan? Apakah professor menyulitkanmu? Dia
memberikanmu banyak tugas?” tanya Hanan yang mendengar perkataan Jean ke si
bungsu.
“Professor
tak menyulitkanku kak. Jika memberi banyak tugas, bukankah memang beliau selalu
begitu.” balas Achi diakhiri dengan kekehan ringan.
“Benar, professor sejak dulu sangat suka memberi banyak tugas. Kau jangan
sampai lupa makan dan tidur Chi! Jika butuh bantuan bilang pada kami.” sahut
Zeyn dengan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Kalian tidak mau menawarkan bantuan
kepadaku?” tanya Raimas yang iri terhadap Achi yang mendapat begitu banyak
perhatian dari teman-temannya.
“Tak bisa, aku tak lanjut S2,” jawab
Zeyn dengan menyuap sepotong daging hasil merebut dari Raimas.
“Kau tahu, aku bukan anak hukum
seperti dirimu,” sahut Hanan mengambil sepotong sosis di mangkuk Raimas.
“Aku tak berkuliah,” ucap Gabriel
begitu Raimas memandangnya.
“Jangan ke aku! Aku fokus membuat
lagu demi cuan,” ucap Lion tanpa menatap Raimas balik dan fokus memakan
makanannya. Raimas menatap Jean tapi ia tahu, Jean mengambil kuliah dance jadi ia tak paham hukum jelas.
Lalu menatap Geano yang berbalik menatap dirinya dengan polos. Raimas menghela
napas mengetahui tidak ada yang bisa membantu dirinya dalam hal kuliah.
Di meja lain seorang laki-laki
tersenyum gemas melihat kejadian dan tak sengaja mendengar percakapan meja
anggota Our Galaxy. Dengan tetap tersenyum laki-laki itu menikmati makanannya.
Dia makan dengan perasaan yang hangat dan rindu menjadi satu.
***
Sembilan remaja laki-laki duduk
menunduk dalam diam di dalam ruangan bos nya yang menjadi sedikit sesak karena
suasana. Hening, sunyi bos nya tak mengeluarkan suara apapun. Hal itu pun
semakin membuat sembilan remaja itu merasa gusar. Pasalnya sudah empat hari dua
pria tak dikenal bersimbah darah itu masih di ICU. Masa kritisnya memang telah
terlewati, tapi keduanya terlalu lemah bila dipindah ke ruang rawat inap.
Sehingga itu membuat keduanya tetap di ICU dengan pengawasan ketat.
“Dua pria yang terluka itu masih di
ICU dan tak tahu kapan mereka sadar. Jadi kita masih belum tahu dari sisi
mereka. Lalu untuk staf wanita yang Killian dan Achi bilang. Dia bukan staf
perusahaan kita.” Ucap sang CEO yang membuat Killian dan Achi menarik napas
dalam dan saling menatap.
“Tapi dia memakai pakaian perusahaan
kita,” ucap Killian mencoba memastikan lagi.
“Tapi dia bukan staf kita. Dia
penguntit yang sedang menyamar. Dari cctv yang terlihat, ia mencuri pakaian
staf dari loker staf. Dan dia adalah penguntit yang selama ini kita cari untuk
ditangkap. Namun, sekali lagi ia berhasil kabur. Bahkan menjebak kalian berdua
ke kejadian ini.” jelas sang bos panjang lebar. Killian, Jean dan Zeyn secara
bersamaan menghela napas frustasi tak menyangka cctv dirusak.
“Apakah tidak ada rekaman cctv di basement mengenai kejadian itu?” tanya
Geano dengan mengepal erat tangannya menahan emosi.
“Beberapa cctv di rusak oleh
penguntit itu. Terutama cctv yang seharusnya bisa merekam dengan jelas kejadian
itu, telah dirusak oleh si penguntit terlebih dahulu. Sepertinya penguntit itu
ketahuan merusak cctv oleh dua pria itu. Mungkin karena panik, penguntit itu
tak sadar melukai keduanya. Lalu berlari menghampiri Killian dan Achi yang
kebetulan di sana sedang berdua saja. Dia pasti tahu, jika kalian masih grup
baru,” ucap sang bos menceritakan spekulasi detektif pribadinya mengenai kasus
ini.
Zeyn yang emosinya berada di puncak
memukul keras meja kaca di hadapannya hingga retak. Hal itu tentu mengejutkan
semua orang. Sang bos hanya menghela napas pasrah melihat tingkah salah satu
anak naungannya. Manager yang disana baru ingin menyeret Zeyn keluar. Namun,
Zeyn kembali meninju meja kaca itu beberapa kali hingga retakkannya menonjol
dan melukai tangannya. Killian yang melihat tangan Zeyn terluka, menghentikan
pergerakan Zeyn. Tentunya Zeyn memberontak, tapi dengan sigap Jean dan Geano
menahan gerakan Zeyn yang lain. Akhirnya, Zeyn menangis kencang karena frustasi
dan tubuhnya melemas dalam pelukan ketiga kakaknya. Hanan, Raimas dan Gabriel
yang merasa sama frustasi hanya menunduk diam. Sedangkan, Lion merengkuh si
bungsu mencoba menenangkan si bungsu agar tak ikut emosi. Sang bos pun
memutuskan mengakhiri pertemuan mereka dan menyuruh manager mengantar Our
Galaxy kembali ke asrama.
***
Dua hari telah berlalu, keadaan
bukannya membaik justru semakin buruk ketika pisau alat yang digunakan melukai
dua pria yang masih kritis di ICU ditemukan di dalam loker Achilles terbalut
dengan seragam sekolahnya. Seragam sekolahnya berlumuran darah kering ternodai
dari pisau yang juga penuh darah kering. Keadaan Achi pun tak baik sejak
menemukan seragamnya berlumuran darah yang telah mengering. Ia hanya diam dan
banyak melamun dengan semua kejadian ini. Hanan, Gabriel, Jean dan Lion terus
berusaha mengajak Achi berbicara agar ia mengalihkan ingatannya tentang hal
itu. Mereka percaya bukan Achi pelakunya, jelas si bungsu dijebak oleh si
penguntit. Sedangkan, Killian dan Geano berdiskusi juga memohon ke bos
perusahaan mereka, meyakinkan bahwa si bungsu bukan pelaku dan sedang dijebak.
Di sisi lain, Raimas dan Zeyn meremas erat kertas-kertas surat yang mereka
dapat. Mereka berdua merasa marah, kesal dan bodoh disaat bersamaan. Kejadiaan
saat ini berbeda dengan yang tertulis di surat itu. Bahkan saat ini mereka
berpikir apakah mereka tidak kehilangan Killian tapi akan kehilangan anggota
lain? Hanya itu yang ada dipikiran mereka. Di surat bukan tertulis Killian dan
Achi dijebak melukai dua orang pria, tapi Killian dijebak dituduh melakukan
pelecehan ke wanita staf di basement.
Entah apakah karena Killian yang seharusnya sendirian di lokasi berubah kejadiannya
karena Killian bersama Achi? Semua pertanyaan itu memenuhi kepala Raimas dan
Zeyn.
Akhirnya di tengah keributan itu
kesembilannya kembali berkumpul di ruang latihan mereka bersama bos dan manager.
Semuanya diam kalut dengan pikiran masing-masing. Kesembilan remaja itu takut
kehilangan anggota grup yang telah mereka anggap keluarga. Tak ada yang ingin
ditinggalkan si sulung ataupun si bungsu.
“Baiklah, tak ada rekaman cctv jika
pisau itu diletakkan oleh orang. Karena lagi-lagi cctv di ruang loker rusak.”
Zeyn dengan cepat memukul lantai dengan tangannya yang lain setelah mendengar
ucapan bos nya. Meskipun terkejut sebentar bosnya tetap melanjutkan ucapannya,
“dan untuk rekaman cctv di depan ruang loker, tidak ada yang masuk ke ruang
loker dengan noda darah,” bos nya diam memperhatikan perubahan ekspresi
kesembilan remaja di hadapannya.
“Tapi bukan Achi pelakunya,” gumam
si bungsu lirih yang didengar semua orang. Para kakak menatap menahan tangis ke
si bungsu, begitupun manager dan sang bos menahan kerlingan air mata agar tak
menetes mendengar cicitan di bungsu.
“Kejadian ini akan merugikan
perusahaan dan juga akan menjatuhkan nama grup kalian jika terungkap ke media.
Perusahaan tidak bisa terus memberi uang damai ke keluarga korban, dan
tersangka si penguntit wanita itu juga tidak ditemukan. Sedangkan, keluarga
korban menuntut perusahaan untuk membawa kasus ini ke jalur hokum,” ucap sang
bos setelah menarik napas panjang, dan kembali melihat perubahan ekspresi
kesembilan remaja dihadapan mereka. Kesembilannya menunjukkan ekspresi penuh
keputusasaan.
“Setelah berdiskusi telah
diputuskan, bahwa Killian Wicaksana akan mengakhiri kontrak dan memutuskan
meninggalkan grup Our Galaxy sebagai bentuk tanggung jawab atas kejadian ini ke
keluarga korban. Juga untuk menjaga nama baik grup Our Galaxy dan perusahaan,” ucap
sang bos lantang dan bangkit pergi meninggalkan kesembilan remaja laki-laki itu
dengan keterkejutan mereka.
***
Our Galaxy telah kembali ke asrama
mereka setelah mendengar ucapan bos mereka. Tidak ada yang membuka suara sejak
mereka sampai di asrama. Jean begitu sampai di asrama langsung memasuki kamar
mengambil semua surat yang ia dapat dan pergi ke dapur. Jean membakar semua
suratnya dengan air mata yang tentu saja mengalir tanpa henti. Lion juga
langsung mengunci diri di kamarnya memandang lembaran-lembaran surat miliknya
dan merematnya erat hingga surat itu tak berbentuk. Zeyn dan Raimas begitu
sampai keduanya tanpa berbicara pergi ke kamar mereka dan hanya diam. Surat
keduanya telah mereka buang setelah mendapat kabar bahwa si bungsu menemukan
pisau. Hanan dan Gabriel memasuki kamar mereka dan saling bersandar dengan
punggung satu sama lain menatap lembar paling akhir surat masing-masing. Keduanya
baru paham dengan kalimat terakhir yang ada di surat mereka. Di sana tertulis “apapun yang terjadi, teruslah maju karena
kau telah melakukan yang terbaik”.
Geano menatap Killian begitu melihat
kelakuan adik-adiknya yang hanya diam dan pergi ke kamar masing-masing. Killian
hanya tersenyum dan memegang bahu sahabatnya menguatkan, juga melalui tatapan
seakan berkata “semua akan baik-baik
saja, beri mereka waktu”. Tanpa kata pun Geano hanya tersenyum dan
mengangguk. Sebagai salam perpisahan yang sebenarnya temannya baru akan
meninggalkan asrama ini lusa, tapi Geano ingin memeluk sahabat sekaligus
kakaknya yang selama ini menjadi sandaran untuknya.
***
Dua hari berlalu, sudah saatnya
Killian pergi dari asrama Our Galaxy. Semua adik-adiknya telah keluar dan
menemui Killian sejak kemarin. Mengikuti kemanapun Killian pergi baik berkemas,
makan, bahkan Zeyn mengajak Killian untuk mandi bersama dengan alasan setelah
ini mereka berpisah. Killian tak sanggup menatap adik-adiknya yang telah sembab
karena dua hari menangis tanpa henti.
“Rai, latih terus kemampuan vokalmu!
Kakak yakin kau kelak akan menjadi penyanyi yang berbakat meskipun dulu kau
lolos karena rapp mu,” ucap Killian ke Raimas yang masih menangis sesenggukan.
“Zeyn, jangan mudah emosi! Semua
anak Our Galaxy gampang terkejut, jadi jika ingin memukul sesuatu beri aba-aba
terlebih dahulu,” pesan Killian ke Zeyn yang juga menangis hingga kesusahan
bernapas. “Atur napasmu, kau kesulitan bernapas,” sambung Killian melihat
adiknya yang kesulitan bernapas karena menangis. Bukannya berhenti menangis
Zeyn justru menangis semakin kencang dan memeluk Killian. Raimas yang kesal
menjambak rambut Zeyn, ia menahan diri tidak memeluk Killian hingga Killian
memberi pesan ke seluruh anggota malah Zeyn mencuri start.
“El, dulu kau belum lancar bahasa
negara ini, sekarang kau sudah sangat lancar bahkan telah menjadi rapper yang tak kalah keren dengan rapper asal negara ini. Tetaplah menjadi
adik yang menggemaskan,” ucap Killian dengan mengusap lembut rambut Gabriel
yang terus mengusap air matanya yang mengalir.
“Hanan, jangan minum kafein dan cheesecake berlebihan! Entah ini sudah
berapa kali kakak bilang, dan maaf telah menjatuhkan americano-mu saat itu. Jangan membuat Jean mengomelimu terus karena
kafein oke!” pesan Killian yang diangguki oleh Hanan yang masih terisak dan ada
jejak air mata mengalir.
“Makanlah yang banyak Lion, kau
sangat kurus. Berhentilah berdiet meskipun disuruh. Kau terlalu kurus.” Ucap
Killian yang juga diangguki Lion dengan menggosok hidungnya yang memerah.
“Maaf aku tidak begitu memanjakanmu
seperti yang lain,” ucap Killian yang mendapat tatapan malas dan decihan dari
Jean.
“Aku bukan anak manja seperti mereka,”
balas Jean mengalihkan pandangan. Padahal terlihat jelas mata Jean memerah
karena banyak menangis, tapi Killian memilih mengusak rambutnya gemas terlalu
hafal dengan sifat tsundere adik ketiganya.
“Maaf aku harus meninggalkanmu
sendiri,” ucap Killian ke Geano.
“Maaf aku tidak bisa melakukan
apapun,” ucap Geano memegang erat tangan Killian.
“Kau cukup memimpin mereka dan
menjadi sukses. Buat Our Galaxy terkenal hingga seluruh galaksi, kau cukup
melakukan itu.” Killian menggenggam erat menguatkan Geano. Tanpa menolak Geano
pun mengangguk menyanggupi hal itu.
Terakhir berpamitan dengan si
bungsu. Si bungsu wajahnya telah sangat memerah membengkak terlalu banyak
menangis. Killian belum mengatakan apapun, tapi Achi memeluk erat tubuh Killian
dan berkata “Achi tak akan melepaskan kak Killian lagi.”
“Achi cukup, berhenti sampai disini
saja. Jika kau melakukannya lagi, kau akan merasa lebih sakit,” ucap Killian
dengan membalas pelukan Achi. Achi terkejut dengan ucapan Killian, dan
menatapnya. Killian yang ditatap Achi tersenyum manis dan membelai pipi lalu
berkata “sudah ya Achi”.
***
Achilles terbangun dari tidurnya dan
menoleh ke kanan dan kiri. Asing. Ia tak berada di kamar asramanya. Bau obat,
ruangan serba putih, selang infus. Achi sadar, ia berada di rumah sakit. Tapi
bukankah ia seharusnya di asrama? Setelah melakukan siaran merayakan hari
debut, makan di restoran daging, seharusnya ia sekarang di asrama.
“Sudah bangun?” suara di samping
mengejutkannya. Ternyata kakak keduanya Jean sedang duduk di sofa memakan
makanannya.
“Kak, apa yang terjadi? Bukankah
kita seharusnya di asrama?” tanya Achi takut-takut.
“Kau mengunci diri lagi di kamar,
dan asrama kebakaran. Kau tak sadar karena terlalu banyak menghirup asap. Oh,
kau juga tak sadar selama enam jam,” ucap Jean datar yang tentu saja bagi Achi
sangat menyeramkan.
“Syukurlah kakak sepertinya tak
tahu, aku akan merencanakan ulang,” gumam Achi kecil yang ia kira tak didengar
Jean. Jean hanya menghela napas panjang dan tak disadari oleh Achi karena dia
telah melamun kembali.
“Achilles Chenoa Kenzie. Hentikan
semua rencana yang ada di otakmu! Berhenti membahayakan dirimu! Berhenti
menjelajah antar universe demi mencegah aku pergi! Semua ini bukan salahmu.
Jadi berhenti melukai diri sendiri untuk kakak,” ucap Killian yang tiba-tiba
masuk dan membuyarkan segala rencana di otak Achi.
“Kak Lian,” ucap Achi bergetar
menahan tangis.
“Achi, kita bawa susu pisang. Eh,
kak Lian,” ucap Hanan, Gabriel dan Zeyn bersamaan membawa kantong masing-masing
dengan makanan ringan kesukaan si bungsu di depan pintu.
“Kalian jangan menghalangi jalan,” ucap
Raimas mendorong ketiga temannya, dan diam mematung melihat Killian di dalam
ruangan. Jean yang melihat Killian dan Achi perlu ruang, meletakkan kasar
sendok makanannya dan berdiri.
“Kak, kau berhutang banyak kepadaku,”
ucap Jean ke Killian, lalu mendorong empat sekawan untuk keluar.
“Kak Lian, kau,” belum usai Achi
berbicara tapi terputus karena terkejut Killian memeluk dirinya.
“Maafkan kakak, karena dulu pergi
begitu saja tanpa berpamitan hingga membuatmu terus melintasi waktu dan
universe hanya untuk melihat saat kita bersama. Maaf, kakak membiarkan Achi
harus menanggung sakit selama ini. Maaf, karena kakak bukan kakak yang baik
buat Achi hingga Achi harus terus kehabisan tenaga untuk pergi melintasi universe.
Maaf telah membuat Achi merasa sakit lagi karena harus kehilangan kakak lagi.
Maaf, kakak terus menghindari Achi. Jika Jean tak menyadari apa yang Achi
lakukan selama ini, dan tak bilang ke kakak. Bisa saja kakak tak akan bertemu
dengan Achi. Kakak ga mau ga bisa lihat Achi lagi. Achi sudah dewasa, jadi
berhenti ya. Cukup Achi pergi ke universe lain buat lihat kakak. Sudah ya Achi,
kakak ga akan kemana-mana lagi. Kakak di sini sama Achi,” ucap Killian tanpa
henti dengan memeluk erat tubuh Achi.
“Maafin Achi udah bandel kak Lian,” ucap
Achi akhirnya dengan tangisan kencang.
“Achi ga salah, jadi udah ya,” ucap
Killian lagi mempererat pelukannya dengan si bungsu. Sekali lagi, Killian
mendengar tangisan keras si bungsu kesayangannya yang selalu ia lihat dari
jauh. Kali ini Killian tidak akan lagi mundur atau menghindari adik bungsunya.
Sedangkan di luar ruangan, Zeyn,
Raimas, Hanan, Gabriel, Lion dan Geano tak percaya dengan ucapan Jean bahwa
selama ini Achi menghilang beberapa saat karena sedang melakukan perjalanan
lintas universe. Lalu Killian datang untuk menghentikan Achi adik bungsu mereka
melakukan perjalanan lintas universe dengan memberikan surat pada Killian
universe lain agar menghentikan perbuatan Achi juga.
“Aku tak percaya kak Jean memiliki
imajinasi yang sangat tinggi.” ucap Hanan yang disetujui anggota lain dengan
menatap Killian dan Achi berpelukan di dalam ruangan.
“Jika tidak begitu, apa kalian
percaya surat kalian yang hilang itu sampai pada diri kalian di universe lain
tanpa perantara?” ucap Jean datar. Ia tahu anggota lain tak akan percaya tentang
hal ini.
“Maksud kakak, Achi mencuri surat
kita semua lalu pergi ke universe lain dan memberi mereka surat-surat kita
begitu?” tanya Lion mencoba mempercayai apa kata kakaknya. Semua anggota
menunggu jawaban Jean, dan Jean hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Aku tak percaya, adik bungsu
menggemaskan dan manis kita memiliki kekuatan seperti doraemon.” gumam Zeyn
yang langsung mendapat pukulan dari Hanan.
“Kenapa jadi doraemon? Memangnya
Achi punya kantong ajaib?” sahut Hanan sewot.
“Maksudku laci meja yang ada mesin
waktu punya doraemon, bukan kantongnya! Mentang-mentang emot binatang Achi
musang.” sewot Zeyn tak terima dengan Hanan.
“Benar juga, aku baru sadar emot
binatang Achi musang.” gumam Jean.
~ TAMAT ~
Komentar
Posting Komentar