Penjara Angan

Aku berjalan di sebuah labirin panjang dan gelap. Bahkan aku seperti berada di dasar tebing yang sangat tinggi. Sangat gelap dan tak terlihat sedikit pun kilatan cahaya disana. Hitam yang terlihat di mataku, dingin mencekam menusuk kulitku, serta kesunyian di sekitarku.

Ku buka mata dan membiarkan cahaya memasuki retinaku. Ku renggangkan tubuhku dan berjalan membuka gorden mempersilahkan sinar matahari menerangi kurungan ini. Ku menghela napas lelah. Kehidupan neraka ini akan aku jalani seperti biasanya.

Ku melangkah keluar dari kurunganku dan langsung disambut dengan tatapan tajam dengan bisikan-bisikan bodoh tentangku. Tapi bagiku mereka hanya angin. Sesampainya di tempat kerjaku, aku langsung diserbu ribuan jarum yang menusuk telingaku. Aku tak tahu apa salahku, tapi aku tetaplah salah di mata yang mulia. Tidak hanya itu, di meja kerjaku pun seperti sebuah gunung kertas dan semua itu harus selesai hari ini.

Hari yang benar-benar menyebalkan. Hari yang kejam dan mengerikan. Mereka semua seperti monster yang kelaparan. Tidak lepas dari merendahkan, mendorong, dan bahkan menjatuhkan orang lain. “Berhenti mengejar impian omong kosongmu itu”, “Jangan membuang waktu untuk omong kosong itu”, “Ingin terbang kau bilang? Bodoh sekali impianmu”, “Lakukanlah yang pasti ada dan berhentilah bermimpi omong kosong seperti itu”, itulah kalimat-kalimat yang sering sekali ku dengar. Bagiku mereka benar-benar monster, dan menganggap orang sepertiku adalah debu yang harus dibersihkan.

Aku sering berpikir apa maksud dari mimpiku. Aku selalu bermimpi berada di dasar tebing tinggi, gelap, sunyi dan labirin panjang membingungkan. Serta sepasang sayap menutup di punggungku. Terkadang pun aku menemukan sebuah pintu yang terlihat seperti elevator dengan tulisan berwarna merah darah “Hellevator” di bagian atas pintu elevator. Di mimpi pun aku tak bisa masuk karena pintu itu selalu tertutup.

***

“Hai, kau ingin mendaftar disini juga?” tanya seseorang. Aku hanya tersenyum tak minat menjawab.  

“Kau mendaftar menjadi apa? Aku mendaftar menjadi karyawan staf manajemen. Apa kau juga?” dia kembali bertanya lagi padaku.  

“Aku ingin menjadi produser lagu di sini. Bahkan jika bisa aku ingin menjadi penyanyi juga di tempat ini.” jawabku dengan tersenyum. Dia terlihat terkejut akan jawabanku. 

“Jangan bermimpi terlalu tinggi! Perusahaan ini tak main-main untuk memilih para artisnya. Aku tak yakin kau bisa lolos di tahap seleksi awal ini. Tapi semoga kau tak menyesal memilih hal itu.” ujarnya dengan senyum meremehkan. 

“Aku tak akan menyesal melihat hasilnya. Jika memang tidak di sini maka aku akan pergi ke tempat lain. Mungkin tempat lain lebih baik untukku dari pada di sini.” jawabku tersenyum. 

“Oh iya, semoga kau tak kecewa dengan hasilnya nanti ya.” sambungku dan meninggalkan orang tersebut. Orang itu terlihat kesal dan tersinggung dengan perkataanku. Tapi aku tak peduli karena dia yang memulai duluan.

Aku memang telah bekerja menjadi seorang karyawan. Tapi di samping itu aku juga mempunyai mimpi menjadi seorang musisi di musik genre hiphop. Aku juga ingin menjadi seorang rapper. Aku sudah melamar di berbagai perusahaan musik. Entah berapa kali aku ditolak bekerja pada perusahaan musik. Tapi aku yakin, suatu hari aku pasti berada di atas.

***

“Chan, berhenti melamar ke sana ke mari! Berhentilah mengejar impian bodohmu itu! Kau hanya akan membuang-buang waktu.” pria di depanku mengusap wajahnya kasar. 

“Chan. sekarang kau kuberi dua pilihan. Pertama, kau tetap bekerja di sini, tapi berhentilah mengejar mimpimu. Kedua, kau bisa mengejar mimpi, tapi kau dipecat. Pilihlah! Kau bebas memilih.” lanjutnya. Aku membelalakan mata tak percaya. 

Seakan paham dengan ekspresiku, pria di depanku berkata, “Kau terlalu mengacuhkan pekerjaanmu Chan. Banyak rekan kerjamu yang mengeluh karena kau selalu mengacuhkan tugasmu. Sudahlah, kurasa ini yang terbaik untukmu. Semoga berhasil.” sambil menepuk bahuku pelan. Aku hanya bisa menghela napas pasrah. Mungkin memang ini nasibku.

***

Aku berjalan dalam gelap, sendiri di dasar tebing ini lagi. Berbeda dari sebelumnya. Saat ini di depanku ada Hellevator dimana pintunya terbuka lebar. Aku mempertimbangkan beberapa menit untuk masuk atau tidak. Tapi pada akhirnya aku masuk juga. Di dalam hanya ada satu tombol huruf “H”. Aku pun menekan tombol itu dan Hellevator berjalan naik. Tapi di tengah jalan tiba-tiba Hellevator berguncang dan berhenti, aku mencoba menekan kembali tombolnya. Hasilnya nihil Hellevator tak bergerak.

“Siapa kau?” aku mendengar suara dari atas Hellevator. 

“Aku Chan, kau siapa?” jawabku. 

“Aku Bino.” muncul orang bersayap tepat di depanku. Bentuk wajahnya tajam, tatapan matanya tak kalah tajam. 

“Apa yang membuatmu memasuki Hellevator?” tanyanya. 

“Aku hanya tak sengaja melihat pintunya terbuka.” jawabku sekenanya. Wajahnya berkerut bingung. 

“Bagaimana pintu ini terbuka? Kau pasti bukan orang biasa. Pintu ini jarang terbuka untuk orang lemah.” ucapnya bingung dan melihat sekitar. Aku merasa kesal dia bilang aku orang lemah secara tidak langsung.

Tiba-tiba Hellevator kembali bergerak. Aku dan Bino terkejut Hellevator bergerak dan pintu terbuka menampakkan tiga orang remaja laki-laki dengan ekspresi datar dan sedikit murung. 

“Apa kalian korban selanjutnya?” tanya salah satu dari mereka yang terlihat paling tinggi dengan badan yang besar dan sedikit kekar. 

“Ku rasa iya, mereka adalah yang akan menjadi korban selanjutnya.” ucap lainnya sambil tersenyum menyeramkan. 

“Apa perlu kita pemanasan terlebih dahulu?” tanya lainnya yang terlihat paling imut tapi dengan tatapan tajamnya dia terlihat tak kalah menyeramkannya dengan dua lainnya. 

“Wohhh… Sabar dulu… Kita kesini secara gak sengaja kok. Sejujurnya diriku sendiri bingung ini tempat apa?” ucap Bino berusaha menahan mereka bertiga yang terlihat siap menyerang. 

“Aku bahkan merasa ini adalah mimpiku yang sangat aneh.” ucapku yang membuat semuanya menatapku.

Semua langsung membelalakan mata seakan sadar akan sesuatu. 

“Apa yang terjadi denganku? Aku dimana?” ucap remaja yang paling tinggi. Yang lainnya pun juga terlihat seperti tersadar. 

“Akh…. Sial! Bagaimana bisa kami terpengaruh ilusinya?” ucap remaja lain tampak kesal. 

“Akh…. Aku minta maaf kepada kalian. Juga adik dan kakakku yang terseret dalam dunia ini. Kenalkan namaku Mino, dia kakakku Woon dan ini adikku Jeon. Kalian siapa?” tanya remaja yang tampak kesal tadi. 

“Aku Chan dan ini Bino, kami baru bertemu tadi di Hellevator.” ucapku memperkenalkan diri.

“AAAAAAAAAAKKKKKKKHHHHHHHH.....” terdengar suara jeritan di ujung labirin. Aku, Bino, Mino, Woon dan Jeon sepakat meninggalkan Hellevator untuk menyelamatkan siapa pun yang berteriak itu. Sesampainya di ujung labirin terdapat bercak-bercak darah. 

“Felix sadarlah! Aku sahabatmu.” ucap seorang remaja yang terlihat menahan remaja lain yang siap menusuk tubuhnya yang sudah penuh luka. Aku, Bino dan Woon langsung menahan dan menjatuhkan pisau yang dipegang remaja ini. Mino dan Jeon membantu remaja yang terluka. Karena remaja yang kuketahui namanya Felix ini terus memberontak, aku pun tak sengaja bertatapan mata dengannya. Tiba-tiba dia jatuh pingsan. Karena merasa di sana kurang aman. Maka aku menggendong Felix dan Bino dibantu Woon mengangkat tubuh remaja satunya. Kami pergi menuju Hellevator Bersama.

Sesampainya di Hellevator aku terkejut luka remaja tadi telah sembuh, bahkan dia terlihat tidak terluka sama sekali. 

“Ukh…. Dimana aku?” ucapnya bangun dari posisi berbaringnya. 

“Akh…. Apa yang terjadi?” ucap remaja lainnya. 

“Kalian aman sekarang.” ucap Mino lembut. 

“Kalian tadi sangat menyeramkan. Aku bahkan sangat takut melihat kalian tadi.” ucap Jeon sambil memeluk tubuhnya. 

“Sudah, yang penting sekarang kalian telah sadar. Jadi perkenalkan namaku Bino. Dia Chan kami bertemu di Hellevator ini.” ucap Bino. Felix melihatku dan dia terlihat terkejut melihat mataku. 

“Kenapa?” tanyaku. 

“Kau seperti memiliki sebuah kekuatan yang kami tidak miliki melalui matamu itu.” jelas Felix. Aku pun bingung apa yang dimaksud. 

“Maksudnya adalah kau bisa membuat kami sadar dari ilusi ini contohnya. Tadi kau pun menyadarkan kami ketika akan membunuhmu. Dan sepertinya orang yang berada disekitarmu juga tak akan terpengaruhi ilusi. Seperti Bino tadi, ia tak terkena ilusi karena berada di sampingmu.” jelas Woon. 

“Tidak ya. Sejak awal aku memang punya kekuatan tidak terpengaruh ilusi bodoh ini.” sangkal Bino tak terima. 

“Kekuatan istimewanya ada lainnya yang lebih kuat. Aku yakin akan firasatku.” ucap remaja terluka tadi. 

“Oh iya, perkenalkan aku Han. Dia Felix sahabatku.” sambung Han. 

“Aku Mino, ini kakakku Woon, dan dia Jeon adikku.” ucap Mino. 

“Kita berada di Hellevator?” tanya Han. 

“Iya, aku rasa di sini aman.” ucapku.

Tiba-tiba pintu Hellevator tertutup dan bergerak ke atas lagi. Kami terlihat bingung kecuali Han dan Felix. 

“Felix, bersiaplah. Kita akan bertemu kakakmu.” ucap Han menepuk bahu sahabatnya. Felix mengangguk. 

“Maksudnya?” tanyaku bingung. 

“Kami pergi turun karena kakakku berubah menjadi monster yang haus darah. Entah kita akan selamat atau tidak. Yang pasti dia tidak akan segan-segan membunuh kita.” jelas Felix.

Hellevator berhenti dan pintu terbuka. Tepat di depan ada seorang remaja menatap tajam ke arah kami. Jeon langsung bersembunyi di belakang badan Woon. 

“Kak Lino, jangan bunuh mereka! Mereka teman-temanku.” ucap Felix maju paling depan. 

“Persetan dengan mereka temanmu. Sekarang kalian semua adalah korbanku selanjutnya.” ucap Lino dan berlari menuju Hellevator. Secara reflek aku maju dan mengibaskan sayapku, angina kencang muncul. Lino terpental menubruk dinding di belakangnya. 

“Kau kuat juga ya.” ucapnya mengusap sudut matanya yang terkena cipratan darah para korbannya yang menggenang. Aku terkejut begitu banyak orang yang telah ia bunuh, bahkan darah mereka membanjiri lantai. 

Lino tersenyum “Kenapa? Kau takut?” ucapnya meremehkan. Aku pun maju berlari siap memberi bogeman mentah. 

“Sadarlah! Adikmu mengkhawatirkanmu bodoh!” ucapku sambil terus memberi bogeman tanpa ampun ke Lino. 

“Dia adikku. Aku yakin dia sekarang sudah sepertiku. Tapi dia berpura-pura di depan kalian. Agar kalian kemari dan menjadi korban kami.” ucap Lino sambil tersenyum dan berdiri. 

“Hah! Waktu di dunia ini telah habis. Aku harap kita bertemu di dunia nyata.” ucapnya. Tiba-tiba saja penglihatanku gelap.

***

Drrrtttt… Drrrttt… Aku membuka mata karena getaran handphoneku. Aku menggaruk kepalaku berpikir apa yang dibilang seseorang di mimpiku. Aku pun berpikir jika dunia di mimpi akan berganti jika sudah waktunya bangun. Tapi dunia apa di mimpiku itu? Jika dipikirkan lagi rasanya tidak nyata. Hpku bergetar lagi membuyarkan lamunanku. Aku pun mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal. Aku terkejut mendengar apa yang dibilang orang disebrang sana. Mereka bilang aku diterima bekerja di perusahaan mereka. Sungguh rasanya seperti mimpi. Akhirnya aku bisa mulai meraih impianku.

***

Aku menghembuskan napas gugup. Aku akan bertemu managerku yang baru. Betapa terkejutnya aku ada Bino disana. Tapi aku ragu jika aku menyapanya akankah ia mengenalku? Aku berpikir untuk menyapanya atau tidak. 

“Saudara Chan, saya Jio manager anda. Perusahaan kami menerima anda karena walau kemampuan musik anda masih sedikit ada kekurangan tapi hal itu bisa dibenahi. Maka kami akan memasukkan anda ke tim kami. Mari ikut saya.” ucap si manager yang telah duduk di hadapanku. Manager berdiri. Aku membuntuti manager pergi menuju lift dan naik di lantai 4. 

“Ini adalah lantai 4, tempat dimana para trainee berlatih untuk debut.” jelas manager dan memasuki sebuah ruangan. Aku terkejut melihat isi ruangan.  

“Anak-anak, ini adalah Chan. Dia akan menjadi anggota tim kalian. Kalian berkenalan dulu ya. Chan aku tinggal dulu. Santai saja dengan mereka, mereka adalah anak-anak yang baik.” ucap manager pergi keluar ruangan.

“Hah! Ternyata benar tebakanku. Kita akan bertemu di dunia ini.” ucap seseorang yang mirip dengan Lino. 

“Kita tak perlu berkenalan. Kita semua sudah bertemu di dunia aneh itu. Jadi kita tak usah berkenalan.” ucap Bino yang baru saja memasuki ruangan. 

“Chan, yang santai saja. Yang di dunia Hellevator itu bukan sifat kami yang sebenarnya.” ucap Bino lagi menepuk bahuku. Aku pun hanya mengangguk sambil tersenyum.  Aku merasa jika di mimpiku adalah orang-orang yang akan berjuang bersamaku. 

“Lalu jika bukan sifat asli kalian apa yang di dunia aneh itu? Ilusi? Atau hanya sebuah mimpi?” tanyaku karena merasa bingung. 

“Itu seperti emosi kita yang berasal dari dunia nyata tapi tertuang semuanya melalui mimpi.” ucap Lino. 

“Jika kau sadar, Hellevator berasal dari kata Hell dan Elevator. Kita hanya akan selalu terlibat disekitar elevator dan merasakan seramnya neraka di dunia itu.” jelas Woon. 

“Itu karena kita merasa sangat berat di dunia ini. Akhirnya di mimpi merasa seperti berada di neraka.” jelas Bino.

***

“Huh! Di sini lagi?” tanyaku membatin. 

“Hai…. Ayo lanjutkan yang kemarin! Sebelum dunia ini berakhir lagi.” ucap Lino yang berada di hadapanku. Aku melihat sekeliling. Di Hellevator ada Mino dan lainnya. Bino, Woon dan Mino yakin aku bisa membuat Lino sadar dari ilusi dunia ini. Felix sedang menangis dipelukan Han. Aku menatap Lino. Lino menghampiriku dan siap memukulku. Aku menahan tangan Lino, aku menatap matanya tajam. 

“Lino, apa yang kau pikirkan sekarang?” tanyaku 

“Apa yang kau rasakan sekarang?” tanyaku lagi. 

“Apa maksudmu? Yang kupikirkan hanyalah mengalahkan mereka yang lebih kuat. Menghancurkan kesombongan mereka. Mengangkat harga diriku dan adikku. Menunjukkan pada orang tua kami, bahwa kami bisa berada di atas dari jalur yang berbeda. Aku akan menunjukkan jika aku bisa. Jika aku lebih ahli dari yang mereka banggakan. Aku pasti akan berada di atas. Aku pasti bisa.” ucap Lino sambil terus mendorongku. Aku terpojok di dinding. 

“Lino, apa kau pikir dengan begini kau bisa jadi yang terbaik? Dengan kau membunuh orang-orang di dunia tak nyata ini kau bisa berada di atas? Itu hanya akan menjadi angan-angan. Jika kau memang mau berada di atas. Maka aku siap membantu. Aku, Bino, Mino, Woon, Jeon, Han dan Felix akan membantu. Kita akan bersama-sama di atas. Kita harus bersatu agar kita bisa di atas. Jika kita hanya berjuang sendiri, kecil kemungkinan kita bisa berada di atas. Jadi Lino, kau tidak sendiri.  Ada aku, Bino, Woon dengan saudara-saudaranya, dan ada Felix adikmu dan Han sahabat adikmu. Ayo kita bersama-sama berjuang! Dan ingat kau tak sendiri.” ucapku panjang lebar. Kurasakan cengkraman Lino di leherku merenggang. Tatapan matanya tidak setajam yang lalu. 

“Kau benar. Maaf aku terlalu terpengaruh oleh ilusi ini.” ucap Lino melepas cengkramannya dari leherku. Aku tersenyum menepuk bahunya. Aku dan Lino memasuki Hellevator, Felix langsung memeluk Lino erat. 

“Maafkan kakak, Fel. Tak mau mendengarkanmu.” ucap Lino dalam isak. Pintu Hellevator tertutup dan Hellevator berjalan naik.

***

“Apakah ini yang terakhir?” tanya Mino. 

“Maksudnya?” tanyaku. 

“Kurasa bukan ini yang terakhir.” ucap Lino. Aku mengerutkan kening. Hellevator kembali berhenti. Di depan labirin gelap yang panjang, bau darah menyengat menusuk indra penciuman, dinding terlihat berwarna merah darah pekat yang sangat membuat diriku ngilu melihatnya.

“AAAAAKKKKHHHH……” teriakan seseorang di ujung labirin membuat kami semua menegang. Di ujung sana pun aku melihat ada sepasang mata merah menatap tajam ke arahku. Tubuhku terasa mati rasa. Tubuhku dikendalikan, aku berjalan maju. Semua menatapku ngeri dan bingung. Aku menggeleng berusaha menunjukkan bahwa bukan keinginanku untuk maju. Mereka semua saling bertatapan bingung. Tiba-tiba pintu Hellevator tertutup. 

“Hei! Buka pintunya!” teriak Lino berusaha membuka pintu dibantu Bino dan Woon. Aku pun pasrah dan menatap ke depan. Angin berhembus sangat kencang. 

“Kak…. Jeon takut…” ucap Jeon lirih memeluk Mino. Aku yang melihat hal itu pun merasa kesal, karena teman-temanku dibuat takut. 

“Hai! Jika, kau memang menantangku. Maka muncul lah! Atau kau ketakutan? Sehingga tidak berani muncul.” Teriakku yang sekarang tubuhnya kembali bisa ia kendalikan sendiri. Dari kegelapan labirin terlihat bayangan tubuh seorang remaja laki-laki berjalan ke arahku. 

“Siapa yang bilang aku takut hah! Bukankah yang ketakutan itu dirimu? Atau orang-orang lemah yang di dalam Hellevator itu?” ucapnya menatap Hellevator. 

“Apa yang kau inginkan?” tanyaku. 

“Mudah saja. Kemungkinan kita sama-sama kuat sampai Dewa Hellevator memilihmu. Bertarunglah denganku. Jika kau mati, teman-temanmu akan menjadi mainanku. Jika aku yang mati Hellevator akan jatuh dan teman-temanmu akan mati baik di dunia ini maupun di dunia nyata.” ucapnya sambil tersenyum menyeramkan. Aku menatap Hellevator. 

“Chan, dia sama seperti kami. Aku yakin kau bisa membuat dia sadar. Sadarkan dia, kita bisa mengakhiri dunia ini.” ucap Lino meyakinkanku. Aku pun menatap remaja di depanku yakin jika aku bisa mengalahkannya.

“Siapa namamu?” tanyaku berusaha santai. 

“Apa perlu saling tau nama?” tanyanya balik. 

“Tentu saja. Setidaknya sebelum bertarung aku harus mengenal musuhku. Dan aku tak mengenalmu. Maka ayo kenalan!” jelasku meyakinan. 

“Baiklah, namaku Hyun. Aku sudah lama berada di sini. Dan setiap orang yang datang ke sini tidak ada yang berhasil melawanku. Semuanya mati karena mereka terlalu lemah melawanku. Giliran dirimu.” jelasnya.

“Namaku Chan. Aku seorang karyawan biasa. Aku bekerja keras untuk membiayai kebutuhan hidupku. Kurasa ini cukup.” ucapku. 

“Hanya karyawan biasa? Bodoh kenapa mau diperbudak manusia lemah.” ucapnya sambil tersenyum dan mulai melawanku. 

“Justru aku akan lemah jika tidak bekerja.” jawabku menghindari serangannya. 

“Kemana orang tuamu? Manusia seusiamu kan masih bisa kuliah.” tanyanya. 

“Aku pergi dari rumah untuk mengejar impianku. Orang tua ku tak mau membiayai kebutuhanku jika aku tetap mengejar impianku. Makanya aku pergi dari rumah.” jawabku menghindar dan melawan balik Hyun.

“Apa impianmu? Sampai membuatmu bodoh meninggalkan rumah dan orang tua demi mengejar impianmu.” Tanyanya terus menyerangku dengan kekuatan yang tak kuketahui. 

“Kelihatannya kau begitu tertarik dengan latar belakangku.” ucapku mencoba menggoda Hyun. 

“Tinggal cerita saja apa susahnya?” ucapnya kesal dan hampir saja aku kena serangannya. 

“Aku ingin menjadi seorang rapper. Tapi orang tuaku memintaku terjun ke dunia bisnis. Aku menolak dan tetap memilih mengejar impianku walau ratus puluh ribuan orang mengejekku, bahkan miliaran orang yang mengejekku. Aku akan tetap mengejar mimpiku. Jika kau bertanya kenapa? Jawabannya karena aku yakin aku bisa mewujudkannya dan bisa berada jauh diatas mereka yang mengejekku.” ceritaku sambil  menahan lengannya.

“Kau keras kepala sekali ya. Tapi bagaimana jika kau jatuh? Kau bisa lebih diinjak-injak dari pada sekarang.” ucapnya mendorong memojokanku. 

“Aku tahu hal itu. Dan aku siap menerima konsekuensinya. Karena itu adalah pilihanku.” jawabku sambil tersenyum menatap matanya. 

“Kau gila. Kau yakin bisa melewati hal itu?” tanya Hyun terlihat tak percaya akan jawabanku. 

“Aku yakin bisa melewati hal itu. Karena itu pilihanku. Dan aku memiliki orang-orang yang mendukungku di sampingku.” ucapku melirik Hellevator.

“Kau menang. Kau benar. Walau orang tua ku mati seharusnya mimpiku tidak ikut mati. Seharusnya aku ikut mengejar impianku seperti yang lainnya. Bukan mengurung diri di kamar.” Hyun tersenyum miring dan melepaskanku. 

“Pergilah! Wujudkan impianmu baik di dunia nyata maupun di dunia ini.” ucapnya menepuk bahuku dan senyumnya terlihat cerah. Melihat senyumnya membuatku ikut tersenyum. Pintu Hellevator terbuka. 

“Ikutlah kami!” ajakku. 

“Tidak, aku akan tetap di sini.” ucapnya. 

“Ikutlah kami! Tidak ada gunanya berada di sini.” ajak Bino juga. 

“Ayo! Ikut saja. Kami tidak ada dendam.” ucapku meyakinkan Hyun. 

“Baiklah.” ucapnya final. Kami masuk Hellevator dan penglihatanku gelap kembali.

***

Aku berjalan menuju ruangan timku. Ketika aku membuka pintu aku terkejut ada seseorang yang terlihat mirip di mimpiku semalam, dan orang itu sedang duduk bermain dengan Lino. 

“Oh, Kak Chan. Dia Hyun kak, anggota baru kita dari tim trainee lain.” ucap Mino. Aku hanya ber ‘oh’ saja walau sedikit tak menyangka ia seorang trainee juga.

“Baiklah, akan ada penilaian bulan ini. Penilaian kali ini hasilnya akan debut dalam waktu dekat. Karena Hyun anggota baru, aku harap Lino membantu Hyun untuk mengajari koreo dance. Bino dan Han bantu aku membagi part nyanyi untuk Hyun. Woon, bantu Jeon menstabilkan suaranya. Kita akan mulai latihan rutin dua hari lagi. Dan waktu kita hanya sekitar dua minggu. Ayo kita semua bekerja keras! Semuanya SEMANGAT!” ucapku menjelaskan tugas masing-masing dan berteriak semangat yang dijawab yang lain “SEMANGAT!” tak kalah keras. Aku tersenyum senang. Impianku semakin dekat.

***

Aku membuka mata, Hellevator berjalan naik. Aku melihat sekeliling, delapan remaja bersamaku dengan sayap menutup di punggung. Hellevator sampai di puncaknya, pintu terbuka dan terlihat ladang lavender yang sangat luas. Kami keluar satu persatu dari Hellevator.

“Woah! Indah sekali!” kagum Jeon akan pemandangan yang ia lihat. 

“Aku tak menyangka di puncak neraka adalah sebuah tempat yang seindah surga.” ucap Bino.

Berbeda dengan aku, Woon, Mino, Jeon, dan Bino yang asik mengagumi pemandangan, Lino, Felix, Han dan Hyun tampak khawatir. 

“Kalian kenapa?” tanyaku. 

“Ini adalah puncaknya. Aku merasa kita tidak semudah itu bisa langsung berada di sini. Pasti di sekitar sini masih banyak jebakan.” jelas Hyun yang diangguki Felix, Lino dan Han. 

“Sebaiknya kita tetap berdekatan, agar mudah untuk saling menjaga satu sama lain.” ucap Lino. Aku mengangguk setuju. 

“Kalian, jangan jauh-jauh! Waspada! Jika ada jebakan atau semacamnya.” ucapku kepada Bino, Mino, Woon dan Jeon. 

Mereka berjalan satu persatu, di paling depan ada aku di belakangku ada Mino, Jeon, Woon, Bino, Han, Felix, Lino dan di paling belakang ada Hyun. Mereka melangkah begitu hati-hati. Tiba-tiba saja Han berlari sangat kencang, hal ini membuat yang lain ikut berlari. 

“Han berhenti! Han hati-hati! Han jangan tinggalkan yang lain!” teriakku berusaha menghentikan Han. Han berhenti dan menatap ke atas, teman-teman yang lain ikut berhenti dan menatap ke atas. 

“Apa itu?” tanya Jeon. 

“Seperti kota. Tapi, bagaimana bisa terbalik begitu?” tanya Woon. Semuanya saling berpandangan bingung. 

“Apa maksudnya ini?”  gumam Han yang didengar semuanya.

“Selamat untuk kalian. Kalian telah berhasil melewati semua rintangan untuk menuju atas sini. Tapi, ini bukan akhirnya. Perjalanan kalian masih jauh, maka tetap bersemangat lah untuk menjalaninya.” suara misterius yang tiba-tiba muncul di tengah kebingungan kami menjawab apa yang kami bingungkan. 

“Maksudnya apa?” tanya Jeon masih bingung. 

“Maksudnya adalah perjalanan kita di Hellevator telah berakhir, tapi di depan kita adalah perjalanan yang sesungguhnya. Entah ini dunia apa tapi mungkin aku merasa asal kita bersama, kita bisa melewatinya dengan mudah.” jawabku dengan tersenyum ke semuanya. Semuannya tersenyum senang karena berhasil melewati Hellevator dan ilusi kuat yang menjatuhkan mental.

“Semuanya SEMANGAT!” teriakku, “SEMANGAT!” dijawab semuanya tak kalah keras dengan suaraku. 

“Ayo kita terbang ke kota itu!” ucapku diangguki yang lain. Kami berlari bersama dan terbang bersama ke arah kota terbalik itu. Namun, tiba-tiba penglihatanku memudar lagi.

***

“Huh……”  aku terus menghembuskan napas pelan berusaha menenangkan diri. 

“Tak usah gugup, aku yakin kita akan debut.” Ucap Woon menenangkanku. Aku tersenyum untuk menjawabnya, walau aku sedikit khawatir tentang mimpi terakhirku. Aku melihat semua anggota, semuanya gugup. Kaki Hyun bahkan bergetar sangat cepat saking gugupnya, Mino memeluk erat Jeon menyalurkan rasa gugupnya, Lino menenangkan Felix yang terlihat gugup juga, Han dan Bino berusaha terlihat santai tapi mereka justru terlihat sangat gugup dari gerak gerik mereka yang absurd.

“Yang akan debut selanjutnya berdasarkan penilaian CEO, para pelatih dan para penonton adalah tim…” ucap pembawa acara. Aku semakin gugup, Woon yang disampingku pun menggigit jarinya gugup dan takut. 

“Tim yang dipimpin oleh Chan yang akan debut bulan depan.” teriak sang pembawa acara dan para penonton bersorak bahagia, aku dan anggota lain saling berpelukkan meluapkan rasa bahagia yang meletup-letup.

Ini bukanlah akhir perjuangan kami, debut adalah awal perjalanan kami menuju kemenangan yang lebih tinggi. Kami akan bekerja keras untuk menciptakan musik dan terus mengembangkannya sesuai perkembangan zaman. Kami akan terus membuat lagu hingga lagu kami ada di puncak tangga lagu dunia. Bahkan hingga hari itu datang aku akan terus membuat musik yang mengguncangkan dunia. Aku juga akan membuat lagu yang membuat dunia tak akan melupakan laguku.


~    TAMAT   ~

Komentar